08 Januari 2010

GELIAT PERTUMBUHAN INDUSTRI KREATIF DI BALI



Industri Kreatif dicanangkan secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007 saat pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia yang berlangsung tanggal 11-15 Juli 2007 di Jakarta. Industri kreatif menjadi salah satu alternatif perekonomian dan saat ini menjadi perhatian banyak negara dunia karena mampu memberi kontribusi bagi perkonomian.

Bali merupakan sebuah pulau yang sangat termahsyur akan keramahan penduduknya, keindahan alamnya, budayanya, dan keseniannya. Tercatat hasil ekspor Bali pada tahun 2008 sebesar US$ 267.506.837, dimana 10.68% atau senilai US$ 28.565.710 berasal dari Jewellery of silver; 8.25% atau senilai US$ 22.796.977 berasal dari Parts of jewellery of silver; 2.58% atau senilai US$ 6.908.061 berasal dari Statuettes and other ornaments, of wood; 2.53% atau senilai US$ 6.770.957 berasal dari Cultured pearls, unworked; 2.53% atau senilai US$ 6.757.198 berasal dari Female dresses, of other textile material, other than swimwear of silk and ramie; dan 2.21% atau senilai US$ 5.909.089 berasal dari Female's wear, of other textile material, other than silk or ramie. Dengan potensi pasar ekspor untuk kerajinan sebesar 28.78% yang dapat diraih pada tahun 2008, dan banyaknya wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali, dan dengan jumlah penduduk 3.409.845 jiwa, serta berlatar belakang budaya yang sarat akan kesenian dan kreatifitas, Bali merupakan provinsi yang bisa cukup sukses dengan program industri kreatif.

Industri kreatif memiliki 14 subsektor, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video film dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, serta riset dan pengembangan. Total kontribusi industri kreatif terhadap Indonesia pada tahun 2006 adalah 5.67% atau senilai Rp104.787.209.313.000.

*cover majaah Media Ekonomika FE Univ. Udayana, Edisi 18, Th. XV/2010

03 Juli 2009

TUHAN V.S. KONDOM


Ironis…tapi memang begitu kenyataannya…
Sex in the “Kos”, begitu tema yang diangkat di tabloid Akademika Edisi 52 Juni 2007. Sedikit membahas gaya hidup yang semakin bebas dan cenderung mengkhawatirkan dari para mahasiswa belakangan ini. Gaya berpacaran yang masuk ke dalam tahap hubungan intim sebelum ikatan resmi pernikahan. Sebenarnya saat ini sudah lebih luas lagi menjadi gaya hidup remaja/ABG. Berawal dari rasa penasaran, hasrat yang tidak tertahankan, hingga kondisi yang memungkinkan (adanya tempat kos kosong/aman tanpa larangan, dan kesediaan satu sama lain untuk melakukannya). Beberapa beralasan takut kalau tidak begitu nanti pacar saya pindah ke lain hati. Kehamilan bukanlah hal yang ditakutkan lagi, karena sudah ada kondom, atau melakukan senggama terputus (sperma dikeluarkan di luar). Inti permasalahannya adalah karena seakan terjadi adanya pembiaran di kebanyakan masyarakat akan kejadian ini. Di samping itu jika dikaitkan dengan faktor agama, terjadi benturan keras antara nafsu dan takut akan dosa kepada Tuhan. Takut sih takut, tapi rasanya enak...Well...keputusan pilihan ada di tangan masing-masing individu.

08 Agustus 2008

Dilema Sampah: Antara Untung dan Rugi

Kota Denpasar sebagaimana kota besar lainnya di Indonesia memiliki permasalahan dalam hal sampah. Peningkatan jumlah sampah akibat faktor industrialisasi ditambah dengan ketidak-disiplinan warga membuang sampah pada tempatnya seringkali menimbulkan ekses negatif. Salah satunya adalah banjir akibat luapan sungai yang tersumbat sampah di kala musim penghujan tiba. Begitu pula dengan maraknya kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) yang sampai menimbulkan korban nyawa.
Di lain pihak, sampah ternyata memberikan sumbangsih positif bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Salah satunya adalah melalui retribusi sampah yang menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah). Di TPA Suwung, sampah juga bisa diolah menjadi kompos dan sumber bahan bakar bertenaga gas. Di tempat lain di Denpasar Timur, sampah plastik kemasan dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tangan yang menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi penduduk lokal. Nah, yang paling ngetren adalah pekerjaan sebagai tukang angkut sampah, beberapa bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan dan sebagian lainnya swadaya ternyata mampu menjadi lahan kerja yang menjanjikan. Bayangkan, dari setiap Kepala Keluarga (KK) yang menggunakan jasa ini dikenakan biaya rata-rata Rp 10.000,- per bulan. Jumlah ini tinggal dikalikan dengan jumlah KK yang menjadi langganan mereka. Beberapa menggunakan gerobak tarik tradisional, beberapa lainnya menarik dengan tenaga sepeda motor, dan yang lebih bermodal lagi adalah dengan menggunakan mobil bak terbuka (pick up). Tertarik dengan bisnis ini????
Terlepas dari semua itu sungguh dilematis jika disatu pihak sampah diharapkan berkurang, sedangkan di pihak lain berharap sampah tetap bertambah agar pemasukan mereka tetap terjaga. Mau pilih yang mana?
*Dimuat di majalah Media Ekonomika FE-UNUD Edisi XII Th. 2008

15 Juli 2008

Pemilu '09: Pilih Dengan Hati Nurani?


Masa kampanye untuk pemilu legislatif sudah dimulai bulan Juli 2008 hingga 8 (delapan) bulan ke depan sebelum masa pemilihan di bulan April 2009. Tidak akan jauh berbeda dengan kampanye-kampanye sebelumnya dimana masyarakat hanya akan dijejali dengan janji-janji manis, mimpi sesaat yang akan lenyap saat mereka sudah menduduki "kursi" dan masyarakat kembali kepada kondisi semula dan hanya bisa menyesal karena lagi-lagi dimanfaatkan. Sebagian diantaranya sudah menyadari bahwa janji politik apalagi money politic sudah bukan jamannya lagi, sebagian lainnya masih belum menyadari hal itu. Sekali lagi hal ini disebabkan kebutuhan "perut". Siapa yang memberi, maka dia yang akan dipilih tanpa peduli apakah mereka akan tetap memikirkan nasib masyarakat yang memilih saat sudah terpilih nanti. Wujud ketidakpercayaan kepada partai politik yang ada ditunjukkan dengan munculnya golongan putih (golput) yang terang-terangan mendeklarasikan bahwa tidak akan memberikan suaranya saat pemilu mendatang. Selain itu ada pula golput yang muncul karena kecewa partainya tidak ikut pemilu. Inilah wujud pendidikan politik di negara ini...
Memang benar, kita harus memilih dengan hati nurani kita. Ikut memilih adalah pilihan hati nurani jika kita masih memiliki harapan bahwa mereka yang terpilih akan membawa keadaan yang lebih baik. Golput juga adalah suara hati nurani sebagai pembelajaran bagi partai bagaimana cara agar masyarakat kembali percaya pada partai. Pastinya bukan dengan janji-janji, tapi dengan bukti-bukti sejak dini bukan hanya menjelang pemilu. STOP pembodohan Masyarakat!!!

28 Mei 2008

Who Want to be an "Aktivis"?

Sebuah keprihatinan terhadap rendahnya minat mahasiswa untuk bergabung ke dalam organisasi kemahasiswaan yang ada di lingkungan UNUD yang berdampak pada terganggunya proses regenerasi di tiap organisasi kemahasiswaan. Bahkan ketika organisasi kemahasiswaan yang dulunya sebagai media penggemblengan aktivis-aktivis muda "turun derajat" menjadi sekedar lembaga minat dan bakat, tetap saja sepi dari peminat.
Tugas kuliah yang padat dan beban SKS (Satuan Kredit Semester) yang juga sangat ketat tidak menyisakan waktu luang untuk ikut nimbrung dalam organisasi kemahasiswaan. Apakah ini NKK/BKK model baru? Padahal mahasiswa tidak cukup hanya berbekal teori di kelas saja, tapi juga memerlukan praktek dan pengalaman dimana semua itu bisa didapatkan dalam organisasi. Aplikasi teori dalam pengabdian kepada masyarakat sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi sambil mengembangkan minat dan bakat.

Kuliah hanya sebagai ajang mengejar titel/gelar semata untuk kemudian secara "egois" digunakan mencari kerja untuk kemakmuran pribadi. Lalu, kapan peran dan tanggungjawab sosial mahasiswa sebagai agent of change, agent of control, dan agent of inovation yang dinanti-nanti kaum grass root akan terwujud?
*Juara I lomba karikatur dalam rangka ulang tahun pers mahasiswa "Akademika" UNUD, Maret-April '07

21 Mei 2008

"NGGAMBAR" IS MY LIFE

AKHIRNYA POSTING...

Sebelumnya sorry untuk posting-an sebelum ini hanya untuk sekedar mengisi kekosongan karena lupa bawa flashdisc n masih sibuk skripsi ..n_n
Well...Terima kasih untuk temen-temen Medikom generasi baru '05 yang mau nerima @ghost di LPM, juga temen-temen di PPMI Denpasar, dan khususnya Indiers LPM Indikator yang udah "menyadarkan" dan "menjerumuskan" ( i ) bahwa "NGGAMBAR" IS MY LIFE...