Industri Kreatif dicanangkan secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007 saat pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia yang berlangsung tanggal 11-15 Juli 2007 di Jakarta. Industri kreatif menjadi salah satu alternatif perekonomian dan saat ini menjadi perhatian banyak negara dunia karena mampu memberi kontribusi bagi perkonomian.
Bali merupakan sebuah pulau yang sangat termahsyur akan keramahan penduduknya, keindahan alamnya, budayanya, dan keseniannya. Tercatat hasil ekspor Bali pada tahun 2008 sebesar US$ 267.506.837, dimana 10.68% atau senilai US$ 28.565.710 berasal dari Jewellery of silver; 8.25% atau senilai US$ 22.796.977 berasal dari Parts of jewellery of silver; 2.58% atau senilai US$ 6.908.061 berasal dari Statuettes and other ornaments, of wood; 2.53% atau senilai US$ 6.770.957 berasal dari Cultured pearls, unworked; 2.53% atau senilai US$ 6.757.198 berasal dari Female dresses, of other textile material, other than swimwear of silk and ramie; dan 2.21% atau senilai US$ 5.909.089 berasal dari Female's wear, of other textile material, other than silk or ramie. Dengan potensi pasar ekspor untuk kerajinan sebesar 28.78% yang dapat diraih pada tahun 2008, dan banyaknya wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali, dan dengan jumlah penduduk 3.409.845 jiwa, serta berlatar belakang budaya yang sarat akan kesenian dan kreatifitas, Bali merupakan provinsi yang bisa cukup sukses dengan program industri kreatif.
Industri kreatif memiliki 14 subsektor, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video film dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, serta riset dan pengembangan. Total kontribusi industri kreatif terhadap Indonesia pada tahun 2006 adalah 5.67% atau senilai Rp104.787.209.313.000.
*cover majaah Media Ekonomika FE Univ. Udayana, Edisi 18, Th. XV/2010



